Pemerintahan dan Politik

Kemarau Tekan Pasokan Air di Ngabang, Karolin Turun Langsung Cari Solusi

×

Kemarau Tekan Pasokan Air di Ngabang, Karolin Turun Langsung Cari Solusi

Sebarkan artikel ini

Channeltujuh.com, NGABANG – Ancaman krisis air bersih mulai membayangi Kota Ngabang, Kabupaten Landak, Provinsi Kalimantan Barat, seiring menurunnya debit Sungai Landak pada musim kemarau.

Kondisi itu membuat Bupati Landak Karolin Margret Natasa turun langsung meninjau fasilitas intake air baku milik Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Landak di Kecamatan Ngabang, untuk memastikan langkah cepat segera dilakukan agar pelayanan kepada warga tidak lumpuh.

“Hari ini kita lihat kondisi intake air bersih untuk wilayah Kota Ngabang dan sekitarnya. Bangunan ini menyuplai kurang lebih 4.000 sambungan rumah tangga. Karena masuk musim kemarau, debit air berkurang, dan ternyata ada proses pendangkalan akibat sedimentasi pasir yang luar biasa,” kata Karolin di Ngabang, Kamis 2 April 2026.

Hasil peninjauan menunjukkan kondisi sungai sudah berada pada titik yang mengkhawatirkan. Kedalaman air yang sebelumnya ideal untuk operasional intake mencapai sekitar 8 meter, kini turun drastis dan tersisa sekitar 1 meter 4 sentimeter.

Penurunan debit itu berdampak langsung pada pasokan air baku menuju instalasi pengolahan. Karolin menyebut, jika dalam dua hingga tiga hari ke depan tidak turun hujan, pelayanan air bersih untuk warga Ngabang dan sekitarnya berisiko terganggu lebih parah.

“Kalau beberapa hari ke depan tidak hujan, ini bisa menjadi persoalan serius karena ujung pipa intake sudah menyentuh dasar pasir sungai,” ujarnya.

Karena itu, Karolin langsung meminta jajaran teknis menyiapkan langkah darurat. Salah satu opsi yang segera diambil ialah penambahan pompa air agar pelayanan dasar kepada masyarakat tetap bisa dipertahankan.

“Kita sepertinya harus tambah pompa untuk bisa tetap menjaga pelayanan kita kepada masyarakat. Jadi kita beli pompa ya Pak, segera disiapkan,” tegas Karolin.

Selain langkah teknis jangka pendek, Karolin juga mengingatkan pentingnya menjaga kawasan hulu sungai agar kondisi lingkungan tidak semakin memperburuk sumber air baku bagi masyarakat.

“Tolonglah semua pihak juga mengawasi sehingga tidak ada aktivitas-aktivitas yang mengganggu lingkungan di hulu sungai. Kalau air sungai ini enggak ada, kita enggak ada sumber air lagi,” katanya.

Sementara itu, Direktur PDAM Tirta Landak Herkulanus mengungkapkan, persoalan layanan air bersih yang dihadapi perusahaannya bukan hanya soal debit sungai yang menurun, tetapi juga persoalan lama pada jaringan distribusi.

Saat ini, PDAM Tirta Landak melayani 9.186 pelanggan yang tersebar di enam kecamatan. Dari jumlah itu, pelanggan terbesar berada di Kecamatan Ngabang dengan total 7.344 sambungan rumah.

Namun, tingkat kehilangan air atau Non-Revenue Water (NRW) di Perumdam Tirta Landak masih sangat tinggi, yakni mencapai 38,30 persen. Angka itu jauh di atas batas yang direkomendasikan secara nasional, yakni maksimal 25 persen

“Kebocoran pada jaringan distribusi infrastruktur perpipaan yang sudah tua, rapuh, dan kurang perawatan menjadi penyebab utama kehilangan air secara fisik,” ujar Herkulanus.

Ia juga mengakui, kondisi keuangan perusahaan ikut tertekan akibat tunggakan pelanggan yang berdampak pada arus kas operasional.

“Banyaknya piutang akibat tunggakan pelanggan menyebabkan kas yang seharusnya masuk menjadi tertunda,” katanya.*/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *