Channeltujuh.com, NGABANG – Tertekannya ruang fiskal dan ekspektasi publik terhadap pembangunan yang terus meninggi, tahun pertama kepemimpinan Bupati Landak Karolin Margret Natasa bersama Wakil Bupati (Wabup) Erani menunjukkan pilihan strategi yang tegas, mengamankan layanan dasar lebih dahulu, sambil menggerakkan pembangunan infrastruktur secara bertahap dan terukur.
Satu tahun pertama kepemimpinan Karolin–Erani menunjukkan pola pembangunan yang bertumpu pada penguatan layanan dasar masyarakat. Di tengah kebijakan efisiensi anggaran dari pemerintah pusat yang mempersempit ruang fiskal daerah, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Landak memilih strategi konsolidasi, memastikan sektor kesehatan, perlindungan sosial, dan stabilitas pangan tetap terjaga, sembari melakukan pembangunan infrastruktur secara bertahap.
Dengan luas wilayah sekitar 9.909 kilometer persegi dan penduduk lebih dari 400 ribu jiwa, kebutuhan layanan publik di Landak terus meningkat. Namun, kapasitas fiskal daerah yang terbatas membuat pemerintah harus menyusun skala prioritas yang ketat sepanjang tahun pertama pemerintahan.
Karolin menegaskan, tahun pertama difokuskan untuk memperkuat fondasi layanan masyarakat.
“Kami menyadari ruang fiskal daerah tidak longgar. Karena itu, kami memilih memastikan layanan dasar masyarakat tetap berjalan optimal sebagai prioritas utama,” ujar Karolin di Ngabang, Kabupaten Landak, Provinsi Kalimantan Barat, Minggu (22/2/26).
Salah satu capaian paling menonjol berada di sektor kesehatan. Pemerintah daerah meresmikan layanan hemodialisa di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Landak, sebuah langkah yang telah lama ditunggu masyarakat.
Sebelum layanan ini tersedia, pasien gagal ginjal kronis dari berbagai kecamatan di Landak harus menjalani terapi rutin ke Kota Pontianak. Jarak tempuh yang panjang tidak hanya menambah biaya transportasi keluarga pasien, tetapi juga meningkatkan risiko medis akibat keterlambatan terapi.
Dengan operasional unit hemodialisa di RSUD, pasien kini dapat menjalani perawatan lebih dekat dari tempat tinggal. Pemerintah daerah menilai kehadiran layanan ini sebagai salah satu indikator peningkatan kualitas layanan kesehatan rujukan di kabupaten.
“Kehadiran layanan hemodialisa ini adalah komitmen kami agar masyarakat Landak tidak lagi terbebani perjalanan jauh untuk mendapatkan terapi rutin,” kata Karolin.
Penguatan sektor kesehatan juga dilakukan melalui operasional Rumah Pemulihan Gizi di Ngabang. Fasilitas ini dirancang sebagai pusat intervensi intensif bagi balita dengan gizi kurang dan gizi buruk yang tidak menunjukkan perbaikan melalui layanan puskesmas.
Melalui pendekatan terintegrasi, mulai dari pemenuhan nutrisi, pemantauan medis, hingga edukasi keluarga, pemerintah berharap penanganan stunting dapat lebih terarah. Program ini menjadi bagian dari strategi konvergensi percepatan penurunan stunting yang terus didorong pemerintah daerah.
Karolin menambahkan, intervensi gizi harus dilakukan secara serius dan berkelanjutan.
“Penanganan stunting tidak bisa parsial. Kita harus hadir dari sisi medis, gizi, dan edukasi keluarga agar hasilnya benar-benar berdampak,” ujarnya.*/












