Channeltujuh.com, PONTIANAK – Panglima Besar Laskar Pemuda Melayu (LPM) Hadi firmansyah atau biasa di panggil Adhy Black bersama Aliansi Ormas Melayu Kalimantan Barat, menyampaikan sikap ke Kepolisian Daerah (Polda) Kalimantan Barat (Kalbar) terkait pelaksanaan aksi penyampaian aspirasi yang dilaksanakan pada hari Kamis, 27 Agustus 2026, di halaman Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Kalimantan Barat.
Dalam hal ini Adhy Black mengatakan bahwa Aliansi Ormas Melayu menghormati hak setiap warga negara dan kelompok masyarakat untuk menyampaikan pendapat serta aspirasi di muka umum secara damai dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
“Namun kami sangat menyayangkan dan mengecam adanya tindakan pemotongan hewan berupa babi yang dilakukan dalam rangkaian kegiatan aksi tersebut. Tindakan tersebut telah menimbulkan keresahan dan melukai perasaan kami sebagai Aliansi Ormas Melayu Kalimantan Barat, khususnya karena kegiatan tersebut dilaksanakan di ruang publik, tepatnya di lingkungan Kantor DPRD Provinsi Kalimantan Barat, yang merupakan salah satu simbol lembaga pemerintahan daerah,” tegas Adhy Black pada channeltujuh.com, di Polda Kalbar, Kota Pontianak, Jumat (28/8/26).
Bahwa sikap tersebut bukan ditujukan untuk merendahkan, menghina, ataupun mempertentangkan adat dan budaya kelompok masyarakat tertentu. Lanjut Adhy Black mengatakan dalam menyampaikan aspirasi harus menghormati keberagaman adat, budaya dan kearifan lokal yang ada di Kalimantan Barat.
“Demo yang di DPRD Kalbar kami berpandangan bahwa setiap kegiatan yang dilaksanakan di ruang publik, terlebih dalam sebuah aksi yang membawa kepentingan dan nama kelompok masyarakat secara luas, harus senantiasa memperhatikan etika, kepatutan, ketertiban umum serta sensitivitas sosial, budaya, etnis dan keyakinan masyarakat Kalimantan Barat yang majemuk,” ujar Adhy Black.
Oleh karena itu, Adhy Black mengatakan Aliansi Ormas Melayu Kalimantan Barat meminta kepada aparat penegak hukum, dalam hal ini Polda Kalbar, untuk dapat memanggil atau meminta klarifikasi kepada koordinator atau pihak yang bertanggung jawab atas pelaksanaan kegiatan tersebut.
“Atas laporan ini kami harapkan agar dapat diperoleh penjelasan yang jelas mengenai maksud, tujuan dan dasar dilaksanakannya pemotongan hewan tersebut dalam rangkaian aksi di halaman Kantor DPRD Provinsi Kalimantan Barat,” tegas Adhy Black.
Menurut Adhy Black langkah klarifikasi sangat penting agar tidak terjadi kesalahpahaman, prasangka maupun berkembangnya isu dan rumor yang dapat memperkeruh suasana serta berpotensi menimbulkan gesekan di tengah masyarakat.
“Perlu kami sampaikan bahwa Aliansi Ormas Melayu Kalimantan Barat telah berupaya membangun komunikasi dengan pihak-pihak maupun organisasi kemasyarakatan yang terlibat dalam aksi tersebut. Upaya komunikasi ini kami lakukan sebagai bentuk itikad baik untuk memahami situasi dan kondisi yang sebenarnya serta mencari jalan keluar secara damai dan bermartabat,” katanya.
Adhy Black berharap seluruh pihak dapat mengedepankan komunikasi, tabayun, saling menghormati dan menahan diri, sehingga persoalan ini tidak berkembang menjadi persoalan antaretnis maupun antarkelompok masyarakat.
“Kami percaya bahwa Kalimantan Barat adalah rumah bersama bagi seluruh masyarakat dengan berbagai latar belakang etnis, agama, adat dan budaya. Oleh karena itu, setiap penyampaian aspirasi hendaknya tetap mengedepankan semangat persatuan, menjaga keharmonisan serta menghormati perasaan kelompok masyarakat lainnya. Kami dari Aliansi Ormas Melayu Kalimantan Barat berkomitmen untuk terus menjaga keamanan, ketertiban, persatuan dan kerukunan masyarakat Kalimantan Barat serta menolak segala bentuk tindakan yang dapat memicu perpecahan di tengah masyarakat,” tukas Adhy Black mengakhiri.*/
![]()













