Pemerintahan dan Politik

Ke Banyuke Hulu, Bupati Landak Himbau Warga terkait Kesehatan, Asupan Gizi dan Pendidikan Anak

25
×

Ke Banyuke Hulu, Bupati Landak Himbau Warga terkait Kesehatan, Asupan Gizi dan Pendidikan Anak

Sebarkan artikel ini

Channeltujuh.com, SIMPANG TIGA – Bupati Landak, Karolin Margret Natasa, menyoroti sejumlah kebiasaan masyarakat terkait kesehatan anak, asupan gizi keluarga, hingga pentingnya pendidikan.

Hal ini disampaikannya saat menghadiri kegiatan Sunat Massal dan Cek Kesehatan Gratis di Pusat Kesehatan Masyarakat Masyarakat (Puskesmas) Simpang Tiga, Kecamatan Banyuke Hulu, Kabupaten Landak, Provinsi Kalimantan Barat.

Menurutnya, pemahaman yang keliru dan penggunaan bahan non medis pada luka justru dapat memicu infeksi, yang menyebabkan anak mengalami demam tinggi hingga kejang. Ia meminta agar penanganan kesehatan sepenuhnya dipercayakan kepada tenaga medis.

Selain penanganan luka, Karolin juga menyoroti tingginya angka stunting di Kabupaten Landak. Ia meminta masyarakat lebih selektif dalam memberikan asupan makanan bagi anak, khususnya pada masa pemulihan dan pertumbuhan.

Karolin menyarankan warga untuk memanfaatkan pangan lokal yang murah namun padat gizi, seperti tahu, tempe, sayuran, dan aneka kacang-kacangan.

“Itu lebih bagus daripada makan sosis, nugget, makanan-makanan yang kayaknya mahal belum tentu bagus,” jelas di Simpang Tiga, Senin (20/7/26).

Pola makan yang keliru, lanjut Karolin, juga berdampak buruk pada kesehatan orang dewasa. Ia mengungkapkan keprihatinannya atas meningkatnya kasus stroke, penyakit jantung, hingga gagal ginjal pada kelompok usia produktif, yakni 30 hingga 40 tahun di wilayahnya.

Untuk itu, ia mendorong warga untuk rutin memanfaatkan fasilitas cek kesehatan di Puskesmas guna mendeteksi penyakit sejak dini. Ia juga mengingatkan warga agar tidak termakan hoaks yang menyebut bahwa obat dari dokter dapat merusak ginjal.

Karolin juga menegaskan pentingnya pendidikan dasar bagi anak-anak di Kabupaten Landak. Ia meminta orangtua untuk mengawasi penggunaan gawai pada anak agar tidak mengganggu waktu belajar, serta berkomitmen menyekolahkan mereka minimal hingga jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA).

“Tolong Ibu, biarpun mamaknya sampai begadai, pontang panting cari uang, ingat ya bapak ibu anak harus bisa sekolah,” tegas Karolin.*/

Loading