Budaya dan Pariwisata

Ribuan Umat Hindu Kalbar Rayakan Nyepi dengan Pawai Ogoh-Ogoh 

29
×

Ribuan Umat Hindu Kalbar Rayakan Nyepi dengan Pawai Ogoh-Ogoh 

Sebarkan artikel ini

Channeltujuh.com, SUNGAI RAYA – Umat Hindu di Kalimantan Barat menyambut Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1945 dengan penuh hikmat dan kebersamaan. Salah satu tradisi yang kembali dilaksanakan adalah pawai Ogoh-ogoh yang berlangsung di sepanjang Jalan Adi Sucipto, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar).

Pawai Ogoh-ogoh dilepas secara resmi oleh Bupati Kubu Raya, Sujiwo, yang diikuti oleh umat Hindu yang ada di Kalimantan Barat. Ogoh-ogoh merupakan karya seni berupa patung yang menggambarkan sifat-sifat buruk manusia, seperti rakus, tamak, iri, dan benci.

Dalam ajaran Hindu Dharma, Ogoh-ogoh melambangkan Bhuta Kala, yaitu kekuatan alam semesta dan waktu yang tak terukur serta tak terbantahkan. Dengan mengarak Ogoh-ogoh di depan umum, diharapkan umat Hindu dapat menyadari dan menjauhi sifat-sifat buruk tersebut, sehingga mampu meredamnya dan menjadi pribadi yang lebih baik.

Dukuh Putra Bandem Kepakisan, Ida Sri Rsi menyampaikan bahwa perayaan Nyepi merupakan momentum penting bagi umat Hindu untuk melakukan introspeksi diri.

“Melalui Catur Brata Penyepian, kita diajak untuk kembali kepada kesucian, merefleksikan perjalanan hidup, dan memperbaiki diri. Nyepi bukan hanya tentang keheningan, tetapi juga tentang membangun kedamaian dalam diri agar mampu menyebarkan vibrasi positif kepada sesama. Mari kita jadikan Nyepi sebagai waktu untuk mempererat toleransi, menjaga keharmonisan, dan memperkuat rasa persaudaraan di tengah keberagaman,” ucap Ida Sri Rsi, di Sungai Raya, Jumat (28/3/25).

Ida Sri Rsi menjelaskan perayaan Nyepi tahun ini diawali dengan upacara Melasti, yaitu ritual penyucian diri yang dilaksanakan di Pantai Samudra Indah, Kabupaten Bengkayang, Provinsi Kalimantan Barat. Upacara ini dihadiri oleh perwakilan umat Hindu dari berbagai daerah, seperti Kota Singkawang, Kabupaten Sambas, Kabupaten Bengkayang, Kota Pontianak, Kabupaten Kubu Raya, dan Kabupaten Sintang. Setelah pawai Ogoh-ogoh, rangkaian acara dilanjutkan dengan upacara Pecaruan Tawur Agung Kesanga dan persembahyangan bersama di Pura Giri Pati Mulawarman.

“Selama pelaksanaan Catur Brata Penyepian, umat Hindu menjalankan empat pantangan utama yaitu Amati Geni (tidak menyalakan api), Amati Karya (tidak bekerja), Amati Lelungan (tidak bepergian), dan Amati Lelanguan (tidak menikmati hiburan). Tujuan dari pelaksanaan Catur Brata Penyepian adalah untuk memohon penyucian diri dan alam semesta kepada Tuhan Yang Maha Esa,” jelas Ida Sri Rsi.

Lebih lanjut Ida Sri Rsi mengatakan perayaan Nyepi di Kalimantan Barat tahun ini menjadi simbol semangat kebersamaan, introspeksi diri, dan peningkatan toleransi antarumat beragama.

“Melalui tradisi seperti pawai Ogoh-ogoh dan rangkaian ritual lainnya, umat Hindu di Kalimantan Barat berupaya menjaga keharmonisan dan kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat,” tukasnya mengakhiri.*/

Laporan : Devi Lahendra

Loading