Pemerintahan dan Politik

Bupati Landak Siapkan Perda Hukum Adat Pertama di Indonesia, Gandeng Universitas Tanjungpura 

15
×

Bupati Landak Siapkan Perda Hukum Adat Pertama di Indonesia, Gandeng Universitas Tanjungpura 

Sebarkan artikel ini

Channeltujuh.com, NGABANG – Bupati Landak Karolin Margret Natasa menghadiri perayaan hari ulang tahun (HUT) ke-10 Perguruan Budaya Ritual Tambak Baya (PBRTB) sekaligus peringatan HUT ke-1 Mangkok Merah Borneo Bersatu (MMBB). Acara ini menjadi momentum penting bagi masyarakat adat Dayak untuk memperkuat pelestarian budaya di tengah arus modernisasi.

Karolin menyampaikan apresiasi atas konsistensi PBRTB dalam merawat tradisi budaya. Ia menyoroti pentingnya keterlibatan generasi muda dalam organisasi kebudayaan, namun tetap mengingatkan agar mereka tidak melupakan pentingnya pendidikan di era digital dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

“Melestarikan adat budaya sangat baik, tetapi jangan melupakan sekolah dan teruslah belajar,” kata Karolin, di Ngabang, Kabupaten Landak, Provinsi Kalimantan Barat, Sabtu 24 Oktober 2026.

Karolin menegaskan bahwa generasi muda Dayak kelak harus bisa menjadi tuan di tanahnya sendiri. Untuk mewujudkan hal tersebut, menurut Karolin, bekal utama yang harus dimiliki adalah ilmu pengetahuan yang setinggi-tingginya.

“Dengan ilmu pengetahuan kita bisa menguasai daerah kita, bisa menguasai teknologi, bisa menguasai sumber daya alam, bisa menguasai berbagai hal secara ekonomi, secara politik, dan secara budaya,” tegasnya.

Sebagai bentuk keseriusan pemerintah dalam mendukung pendidikan, Karolin mengungkapkan bahwa pihaknya tengah merancang peraturan daerah (Perda) untuk menjamin masa depan pendidikan di Kabupaten Landak.

“Saya bersama dengan pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Landak sedang memikirkan untuk menyusun Perda mengenai Dana Abadi Pendidikan. Jadi kita mau simpan uang dan tidak boleh diganggu gugat khusus untuk pendidikan,” ujar Karolin.

Sementara itu, Panglima Tambak Baya sekaligus Panglima Tertinggi MMBB, Marselinus Mian, dalam orasinya menekankan bahwa budaya merupakan benteng moral bagi masyarakat Dayak dalam menghadapi gempuran zaman. PBRTB hadir sebagai wadah perlindungan budaya dari arus destruktif modernisasi.

“Budaya adalah akar etika yang menjaga sebuah bangsa tetap berdiri di tengah derasnya arus zaman bagi masyarakat Dayak,” ungkap Mian.

Mian menjelaskan bahwa ritual adat yang dilestarikan oleh organisasinya memiliki filosofi mendalam, bukan sekadar tontonan.

“Bagi kami Perguruan Budaya Ritual Tambak Baya bukanlah sekedar pertunjukan teatrikal manusia melainkan sebuah bentuk komunikasi dua arah antara manusia dan kekuatan alam,” jelasnya.*/

Loading

Penulis: Deckie Lawandera