Budaya dan Pariwisata

Sambut Hari Raya Nyepi Saka 1947, Umat Hindu Kalbar Laksanakan Upacara Melasti

×

Sambut Hari Raya Nyepi Saka 1947, Umat Hindu Kalbar Laksanakan Upacara Melasti

Sebarkan artikel ini

Channeltujuh.com, BENGKAYANG – Umat Hindu dari berbagai daerah di Kalimantan Barat (Kalbar) melaksanakan upacara Melasti di Pantai Samudera Indah, Kabupaten Bengkayang, Provinsi Kalimantan Barat.

Upacara ini digelar dalam rangka menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1947 yang jatuh pada 29 Maret 2025.

Upacara sakral ini dipimpin oleh Ide Shri Rsi Dukuh Putra Bandem Kepakisan dan dihadiri oleh umat Hindu dari Kota Pontianak, Kabupaten Kubu Raya, Kabupaten Sambas, Kota Singkawang, Kabupaten Sanggau, dan Kabupaten Sekadau. Mereka datang dengan penuh khidmat untuk melaksanakan ritual penyucian diri dan alam semesta sebelum memasuki perayaan Nyepi.

Dukuh Putra Bandem Kepakisan, Ide Shri Rsi mengatakan Melasti merupakan rangkaian penting dalam perayaan Nyepi yang bertujuan untuk menyucikan diri dan menetralisir energi negatif. Ritual ini dilakukan dengan membawa pratima atau benda-benda sakral ke sumber air, dalam hal ini Pantai Samudera Indah, sebagai simbol pembersihan spiritual.

“Upacara Melasti adalah momen penyucian diri agar umat Hindu siap menjalani Catur Brata Penyepian dengan hati yang suci dan pikiran yang jernih,” ujar Ide Shri Rsi, di Bengkayang, Minggu (23/3/25).

Dikatakan Ide Shri Rsi upacara dimulai dengan arak-arakan membawa pratima dan sesajen dari pura menuju pantai. Para pemangku dan pinandita memimpin ritual persembahyangan, diikuti oleh umat Hindu yang mengenakan pakaian adat Bali.

“Pelaksanaan Melasti di Kalimantan Barat juga mencerminkan kuatnya semangat persatuan dan toleransi antarumat beragama. Masyarakat sekitar turut menyaksikan jalannya upacara dengan penuh penghormatan,” ucap Ide Shri Rsi.

Ide Shri Rsi berharap dengan terlaksananya Melasti ini, umat Hindu kini bersiap menyambut Hari Raya Nyepi dengan menjalankan Catur Brata Penyepian, yaitu amati geni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak bersenang-senang).

“Hari Raya Nyepi menjadi momen refleksi dan penyucian diri agar dapat memasuki tahun baru dengan hati yang lebih tenang dan penuh kesadaran spiritual,” pungkas Ide Shri Rsi.*/

Laporan : Devi Lahendra 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *