Ini Cara Bupati Landak, Wujudkan Perlindungan Anak dan Perempuan di Kabupaten Landak

Ini Cara Bupati Landak, Wujudkan Perlindungan Anak dan Perempuan di Kabupaten Landak

Channeltujuh.com, NGABANG -- Bupati Landak, Karolin Margret Natasa menggandeng perangkat adat dalam upaya melakukan perlindungan terhadap persoalan anak dan perempuan yang ada di Kabupaten Landak. 

Upaya tersebut dilatarbelakangi fakta bahwa masih banyak persoalan-persoalan yang berkaitan dengan anak dan perempuan di Kabupaten Landak yang masih belum menjadi perhatian bersama. 

"Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri banyak persoalan yang berkaitan dengan anak dan perempuan masih belum menjadi perhatian kita, entah karena kesibukan kita masing-masing atau memang karena tingkat pendidikan masyarakat kita yang belum ideal," ujar Karolin saat Workshop Saluran Harapan Perlindungan Anak Kabupaten Landak ,di aula Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. 

Baca ini : Bupati Landak Buka Milenial Road Safety Festival di Landak

Workshop yang diselenggarakan oleh Pemkab Landak bekerjasama dengan Dewan Adat Dayak (DAD) Landak ini menggandeng Wahana Visi Indonesia (WVI) yang diikuti oleh perangkat adat dari 13 kecamatan, perwakilan gereja, tokoh masyarakat dan sejumlah lembaga yang dilaksanakan selama tiga hari. 

Karolin menambahkan, dirinya berkeyakinan bahwa generasi penerus yang baik itu lahir dari proses yang baik pula. Sehingga Karolin bercita-cita agar generasi penerus menjadi generasi yang tangguh, sanggup untuk menghadapi berbagai tantangan serta menjadi orang-orang yang mampu menjadi sumber inspirasi.

"Generasi yang bisa memberikan perubahan, membawa kemajuan dan itu kuncinya ada ditangan anak-anak kita," kata Karolin. 

Menurut Karolin, salah satu kesulitan ketika membicarakan masalah kekerasan pada perempuan dan anak karena semua isu dianggap urusan domestik atau urusan dalam keluarga. Karena dalam tradisi adat Dayak hal tersebut masih kuat serta pengaruh keluarga besar juga masih sangat kuat.

"Jadi ini coba saya bangkitkan agar masalah kegotongroyongan lewat keluarga besar adat ini, kita saling menjaga generasi penerus kita,"ucap Karolin.  

Sementara itu, Manager WVI Landak, Igantius Anggoro mengatakan, latar belakangan workshop tersebut merupakan salah perhatian dari Bupati Landak, WVI, dan DAD Landak untuk bisa memberikan kontribusi yang sangat positif bagi anak-anak di Kabupaten Landak.

Baca ini : Sintang Memanas, TNI Jaga Ketat Kantor KPU Sintang


Baca ini : Bupati Sintang Buka Kegiatan Diskusi Publik yang Dimotori WVI Zona Kalimantan Barat

"Ketika WVI mulai melayani di Kabupaten Landak di tahun 2010, tidak semua anak dapat mengakses pendidikan sekolah usia dini maupun dasar. Banyak angka putus sekolah dan banyak perkawinan anak," ungkap Ignatius. 

Sepanjang Fase Pertama, lanjut Ignatius, WVI melakukan berbagai pendampingan di bidang pendidikan, kesehatan serta perlindungan anak. Salah satu yang menjadi capaian masyarakat, sebut Ignatius adalah adanya Desa Ramah Anak di Desa Pawis Hilir Kecamatan Jelimpo sekaligus tersusunnya Peraturan Desa Perlindungan Anak (Perdes PA) di desa tersebut. 

"Perdes PA ini disahkan oleh Kepala Desa (Kades) pada tahun 2015 yang mencakup diantaranya larangan perkawinan anak, jam belajar anak, partisipasi anak dalam pembangunan, serta larangan pekerja anak," tukas Ignatius mengakhiri.*/


Laporan : Deckie


Bagikan :